Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,12% di Triwulan II, tetapi Pakar Menyebut Adanya Anomali Data
Liga335 daftar – TEMPO.CO, Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa ekonomi Indonesia tumbuh 5,12 persen secara year on year pada kuartal kedua 2025, namun Nailul Huda, Direktur Pusat Ekonomi Digital Lembaga Studi Ekonomi dan Hukum (Celios), berpendapat bahwa data tersebut mengandung beberapa anomali yang menimbulkan pertanyaan.
Menurut Nailul, salah satu kejanggalannya adalah pertumbuhan yang lebih tinggi di kuartal kedua dibandingkan dengan kuartal pertama, padahal di kuartal pertama terdapat periode Ramadan dan Idul Fitri.
“Pada tahun-tahun sebelumnya, pertumbuhan triwulanan tertinggi biasanya terjadi pada saat Idul Fitri,” katanya dalam keterangan tertulis pada Selasa, 5 Agustus 2025.
“Pada kuartal I 2025, pertumbuhan hanya 4,87 persen, sehingga terlihat anomali pada kuartal II yang mencapai 5,12 persen,” imbuhnya.
Anomali kedua, menurut Nailul, terletak pada data sektor industri pengolahan.
BPS melaporkan bahwa industri pengolahan tumbuh 5,68 persen secara year on year dan memberikan kontribusi sebesar 1. 13 persen terhadap pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.
Namun, selama periode April hingga Juni 2025, Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia turun di bawah 50 poin, yang mengindikasikan kontraksi.
“Ini berarti perusahaan-perusahaan tidak berekspansi secara signifikan,” kata Nailul.
Dia menambahkan bahwa kondisi di industri manufaktur tampaknya memburuk, menunjukkan peningkatan 32 persen tahun-ke-tahun dalam pemutusan hubungan kerja (PHK) antara Januari dan Juni 2025.
Anomali ketiga yang ia catat adalah konsumsi rumah tangga, yang hanya tumbuh 4,96 persen.
Menurut BPS, konsumsi rumah tangga menyumbang 54,25 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) dan menyumbang 2,64 persen terhadap pertumbuhan secara keseluruhan.
Namun, Nailul mempertanyakan peristiwa spesifik apa yang menyebabkan lonjakan belanja rumah tangga selama kuartal tersebut.
“Kurangnya sinkronisasi antara data pertumbuhan ekonomi dan indikator-indikator utama membuat saya secara pribadi mempertanyakan keandalan angka-angka yang dirilis oleh BPS,” katanya.
Ia meminta BPS untuk memberikan penjelasan rinci mengenai metode yang digunakan. gy yang digunakan, termasuk indeks yang digunakan untuk menghitung nilai tambah di seluruh sektor dan pengeluaran.
Sebelumnya, Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Moh.
Edy Mahmud, menjelaskan bahwa ekonomi Indonesia pada kuartal kedua tahun 2025, berdasarkan harga berlaku, mencapai Rp5.947 triliun. Sedangkan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp3.
396,3 triliun.
“Jadi, jika dibandingkan dengan kuartal kedua 2024, ekonomi Indonesia tumbuh 5,12 persen secara year on year,” kata Edy dalam konferensi pers pada hari Selasa, 5 Agustus 2025.
Dari sisi pengeluaran, Edy mengatakan semua komponen menunjukkan pertumbuhan positif kecuali konsumsi pemerintah yang mengalami kontraksi sebesar 0,33 persen.
“Penyumbang terbesar PDB adalah konsumsi rumah tangga yang mencapai 54,25 persen. Komponen ini tumbuh 4,97 persen, mencerminkan masih kuatnya permintaan domestik,” katanya.