Gubernur Bank Indonesia memprediksi bahwa nilai tukar rupiah akan terus menguat.
Liga335 – TEMPO.CO, Jakarta – Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyatakan keyakinannya bahwa rupiah akan terus menguat, dengan mengatakan bahwa tekanan terbaru pada mata uang tersebut didorong terutama oleh faktor teknis jangka pendek rather than melemahnya fondasi ekonomi. Perry menjelaskan bahwa depresiasi rupiah sebelumnya sebagian besar disebabkan oleh arus keluar modal asing di tengah ketidakpastian yang meningkat di pasar keuangan global.
Ia juga menyoroti peningkatan permintaan mata uang asing dari bank dan korporasi domestik seiring dengan peningkatan aktivitas ekonomi.
“Selain itu, peningkatan permintaan valuta asing oleh bank-bank dan korporasi domestik sejalan dengan aktivitas ekonomi juga mempengaruhi kinerja rupiah,” kata Perry dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Kementerian Keuangan Jakarta pada Selasa, 27 Januari 2026. Meskipun ada tekanan tersebut, Perry mengatakan Bank Indonesia memperkirakan nilai dasar rupiah akan menguat, didukung oleh beberapa indikator kunci.
Salah satunya adalah tingkat inflasi yang rendah. Inflasi. Ia mencatat bahwa tekanan inflasi baru-baru ini tidak didorong oleh faktor inti.
Inflasi inti berada pada level 2,38 persen secara tahunan pada Desember 2025, jauh di bawah kisaran target Bank Indonesia sebesar 2,5 persen plus atau minus satu persen.
Faktor pendukung lainnya adalah pertumbuhan ekonomi yang membaik. Bank Indonesia memperkirakan potensi pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam dua tahun ke depan berada di kisaran 5,8 hingga 6,2 persen.
Perry juga mengatakan bahwa imbal hasil di pasar keuangan domestik tetap menarik bagi investor. “Dan tentu saja, hal ini didukung oleh komitmen Bank Indonesia untuk menstabilkan rupiah dan mengarahkannya ke level yang lebih kuat,” katanya.
Perry menegaskan kembali komitmen bank sentral untuk menjaga stabilitas nilai tukar melalui berbagai langkah kebijakan.
Langkah-langkah ini meliputi intervensi terukur di pasar non-deliverable forward (NDF) offshore, transaksi non-deliverable forward (DNDF) domestik, operasi pasar spot, dan penguatan operasi moneter pro-pasar. Rupiah Rupiah ditutup lebih kuat di level Rp16.768 per dolar AS pada Selasa, 27 Januari 2026.
Awal tahun ini, nilai tukar rupiah melemah hingga Rp16.956 per dolar AS pada penutupan perdagangan pada 21 Januari.