Indeks Manufaktur PMI Indonesia Mencapai Level Tertinggi dalam Dua Tahun di 53,8, Tingkat Ketenagakerjaan Meningkat
Liga335 – TEMPO.CO, Jakarta – Lembaga pemeringkat global Standard & Poor’s Global Ratings (S&P) melaporkan bahwa Indeks Manajer Pembelian (PMI) sektor manufaktur Indonesia pada Februari masih berada di zona ekspansi dengan skor 53,8. Hal ini menandakan perbaikan dibandingkan dengan Januari.
“Indeks Manajer Pembelian Manufaktur S&P Global Indonesia naik dari 52,6 pada Januari menjadi 53,8 pada Februari, menunjukkan perbaikan yang lebih kuat dalam kesehatan sektor produksi barang,” bunyi rilis S&P Global yang dikutip pada Senin, 2 Maret 2026. Ambang batas ekspansi PMI manufaktur adalah 50, dan skor di bawahnya dianggap sebagai kontraksi. Faktor utama peningkatan pada Februari adalah pertumbuhan permintaan yang semakin cepat untuk produk-produk buatan Indonesia.
S&P mencatat bahwa skor ini menunjukkan ekspansi dalam kondisi operasional manufaktur, yang “merupakan yang tertajam sejak Maret 2024.” Pesanan baru telah meningkat selama tujuh bulan berturut-turut, dengan pertumbuhan pada level terkuat si Sejak November. Angka penjualan yang positif telah mendorong perusahaan untuk “meningkatkan jumlah tenaga kerja untuk keenam kalinya” dalam tujuh bulan.
Selain itu, dilaporkan adanya peningkatan pembelian bahan baku produksi selama tujuh bulan berturut-turut, yang merupakan peningkatan tertajam dalam kurang dari dua tahun. Pada saat yang sama, persediaan barang meningkat karena beberapa perusahaan menambah stok bahan baku untuk merespons kenaikan permintaan dan kebutuhan produksi. Ekonom di S&P Global Market Intelligence, Usamah Bhatti, menyatakan bahwa sektor manufaktur Indonesia “kembali menguat di tengah kuartal pertama, menandakan prospek yang baik untuk bulan-bulan mendatang.”
Namun, tekanan harga tetap tinggi, dengan produsen mencatat kenaikan harga bahan baku.