Ekonom UGM Mengatakan Target Pertumbuhan Ekonomi Indonesia sebesar 8% Tetap Menjadi Tantangan
Slot online terpercaya – Seorang dosen di Departemen Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB UGM), Akhmad Akbar Susamto, Ph.D., menyatakan bahwa target Indonesia untuk mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen masih sulit tercapai dalam waktu dekat.
Meskipun perekonomian nasional tetap relatif tangguh, ia berpendapat bahwa dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk mewujudkan optimisme pemerintah dalam mencapai target pertumbuhan 8 persen tersebut. Mengingat kondisi ekonomi saat ini, ia menilai bahwa kebijakan ekonomi pemerintah masih menghambat pertumbuhan, sehingga tidak dapat dipercepat lebih lanjut.
“Kita semua tentu mengharapkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi.
Namun, secara realistis, target 8 persen masih jauh dari kondisi ekonomi struktural Indonesia saat ini,” katanya di Kampus UGM pada Senin (2 Maret).
Akbar menjelaskan bahwa Indonesia telah mencapai pertumbuhan ekonomi 8 persen sebanyak empat kali dalam sejarah ekonominya. Namun, selama 30 tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi nasional bahkan belum mencapai 7 persen.
“Dalam 30 tahun terakhir, “Indonesia belum pernah lagi mencapai pertumbuhan sebesar 7 persen atau lebih,” katanya.
Mengacu pada proyeksi dari lembaga internasional dan nasional seperti Dana Moneter Internasional (IMF), Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia (ADB), dan lembaga riset dalam negeri, Akbar menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi pada tahun 2026 diperkirakan masih akan berkisar di angka 5 persen. Seperti yang ia sampaikan sebelumnya, meskipun perekonomian Indonesia tetap cukup tangguh, namun juga terkendala dan tidak mampu tumbuh lebih cepat.
“Ekonomi Indonesia pada tahun 2026 diproyeksikan tumbuh pada tingkat normal sekitar 5 persen,” katanya.
Akbar lebih lanjut menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia terus didukung oleh konsumsi rumah tangga dan investasi. Konsumsi rumah tangga diperkirakan tetap menjadi kontributor utama pertumbuhan PDB dari sisi pengeluaran.
Meskipun investasi cenderung berfluktuasi, ia meyakini bahwa investasi tetap memainkan peran signifikan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi.
“Penurunan realisasi investasi asing langsung h “Seperti yang terjadi di berbagai sektor, termasuk pertambangan, kimia, dan transportasi, yang sebelumnya menopang pertumbuhan investasi,” jelasnya.
Sementara itu, sektor perdagangan luar negeri diperkirakan tidak akan menjadi mesin pertumbuhan pada tahun 2026.
Menurutnya, nilai ekspor Indonesia akan terus menghadapi tekanan akibat kebijakan tarif balasan Amerika Serikat dan melemahnya harga beberapa komoditas utama.
Di saat yang sama, impor Indonesia diproyeksikan meningkat, terutama dari Tiongkok, di tengah diversifikasi pasar global yang didorong oleh ketegangan perdagangan dan upaya negara-negara mitra untuk melepaskan kelebihan kapasitas manufaktur.
Langkah apa yang harus diambil untuk mendorong pertumbuhan?
Dalam jangka pendek, Akbar mengatakan perlu memastikan bahwa setiap rupiah yang dibelanjakan oleh pelaku ekonomi menghasilkan output yang lebih besar.
“Setiap rupiah belanja pemerintah juga harus menghasilkan output yang lebih tinggi,” tambahnya.
Ia juga menyoroti postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026, yang mencatat defisit sebesar Rp689,1 triliun.
Menurut Menurutnya, meskipun anggaran tersebut bersifat ekspansif dalam merangsang aktivitas ekonomi, namun belum pro-pertumbuhan, sebagaimana ditunjukkan oleh pengurangan sebesar 20 persen pada belanja modal pemerintah. Dalam pandangannya, belanja modal tidak hanya secara langsung merangsang pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menciptakan efek pengganda yang lebih kuat melalui pembentukan modal tetap bruto, yang meningkatkan kapasitas produksi dan mendukung pertumbuhan jangka menengah dan panjang.
Sebaliknya, meskipun program Makanan Bergizi Gratis (MBG) berkontribusi langsung terhadap PDB, efek pengganda terhadap pertumbuhan ekonomi relatif terbatas karena manfaat ekonominya terwujud secara tidak langsung dan dalam jangka panjang.
“Dalam jangka pendek, yang perlu dilakukan adalah merancang program tersebut agar efek pengganda dan efek spillover ekonominya dapat diperkuat,” kata Akbar, yang juga menjabat sebagai Direktur Riset Makroekonomi dan Kebijakan Fiskal-Moneter di Center of Reform on Economics Indonesia (CORE).
Mengenai upaya jangka panjang untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, Akb Ar meyakini bahwa pemerintah dapat meningkatkan belanja modal, mempercepat realisasi dan kepastian proyek-proyek investasi, serta mendorong investasi swasta dan investasi asing langsung yang berkualitas tinggi.
Hal ini juga dapat dicapai dengan mengarahkan belanja dan investasi ke sektor-sektor yang dapat menekan biaya ekonomi, terutama logistik, energi, dan konektivitas, merestrukturisasi program-program belanja berskala besar, serta mengintegrasikan program-program sosial dan pembangunan dengan agenda-agenda produktivitas.
“Lebih penting daripada sekadar meningkatkan investasi atau memperluas pengeluaran pemerintah, kita perlu mengubah perilaku pelaku ekonomi melalui reformasi kelembagaan dan aturan main yang lebih sehat,” pungkasnya.