DEN Mengaitkan Demonstrasi Agustus dengan Warisan Ekonomi Indonesia Selama 10 Tahun
Slot online terpercaya – TEMPO.CO, Jakarta – Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Mari Elka Pangestu menyatakan bahwa demonstrasi massal di Indonesia pada Agustus 2025 bukanlah akibat dari pemerintahan Presiden Prabowo Subianto selama 10 bulan. Menurutnya, aksi-aksi tersebut merupakan konsekuensi dari warisan kebijakan ekonomi selama dekade terakhir.
Ia menyebutkan bahwa Indonesia saat ini menghadapi lingkungan eksternal yang paling tidak bersahabat dan tidak pasti, yang dianggap sebagai yang terburuk dalam ingatan hidup. Hal ini telah memperparah tantangan struktural domestik dan ketidakpuasan ekonomi, seperti yang terlihat dalam demonstrasi terbaru. “Protes-protes baru-baru ini, seperti yang kita ketahui, bukan tentang 10 bulan terakhir pemerintahan ini, tetapi tentang kondisi dan situasi ekonomi yang diwarisi dan berkembang, terutama dalam 10 tahun terakhir,” katanya selama Konferensi Indonesia Update ke-42 yang disiarkan di YouTube oleh Proyek Indonesia ANU pada Jumat, 12 September 2025.
Mari Elka menyatakan bahwa ketidakpuasan yang dirasakan oleh masyarakat tidak. Ketidakpuasan tersebut tidak muncul dalam protes-protes terbaru, melainkan telah meningkat secara bertahap. “Ketidakpuasan yang ada tidak muncul dalam protes-protes terbaru, tetapi telah berkembang secara bertahap.
Inilah situasi yang kita hadapi saat ini,” katanya. Dalam presentasinya, Mari Elka pertama-tama membahas evaluasi perkembangan ekonomi Indonesia terkait pertumbuhan ekonomi. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,12 persen pada kuartal kedua tahun 2025.
Mari Elka menyebutkan bahwa angka ini memang lebih tinggi dari perkiraan 4,8 persen. Namun, alasan di balik pertumbuhan ekonomi 5,12 persen ini telah dijelaskan, termasuk peningkatan konsumsi, terutama di sektor rekreasi. “Angka ini lebih tinggi dari proyeksi 4,8 persen dan proyeksi Kementerian Keuangan.
Hal ini memicu perdebatan apakah angka-angka ini dimanipulasi sebelum pidato Presiden pada Hari Kemerdekaan,” katanya. Namun, ia menekankan bahwa isu utama. Kualitas pertumbuhan adalah kuncinya.
Menurutnya, perekonomian Indonesia belum sepenuhnya pulih dari pandemi COVID-19. “Secara global, kita masih merasakan perlambatan ekonomi pasca-COVID,” katanya. Mari Elka menjelaskan bahwa negara-negara maju menunjukkan pemulihan yang lebih baik, meskipun masih di bawah tren, sementara negara-negara berkembang dan miskin menghadapi situasi yang lebih menantang.
“Indonesia tidak berbeda dalam hal ini, tetapi yang saya maksud adalah bahwa dampak jangka panjang dari kerugian yang dialami akibat pandemi masih terlihat dalam angka produk domestik bruto (PDB) dan angka pengangguran,” katanya.