Gubernur Bank Indonesia Mengatakan Ruang Gerak untuk Pemotongan Suku Bunga Semakin Menyempit
Liga335 – TEMPO.CO, Jakarta – Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan bahwa ruang gerak untuk menurunkan suku bunga acuan, atau BI Rate, akan semakin terbatas di masa mendatang. Menurutnya, konflik di Timur Tengah telah menguatkan indeks dolar AS dan menyebabkan modal asing menarik diri dari pasar keuangan domestik.
Perry menyatakan bahwa BI perlu menyesuaikan kembali berbagai kebijakan demi menjaga stabilitas. “Meskipun kami mempertahankan BI Rate di level 4,75 persen, tampaknya kemungkinan untuk menurunkannya di masa depan semakin terbatas, dan kami juga harus bertindak untuk menjaga stabilitas,” kata Perry dalam rapat kerja dengan Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat di Jakarta, Rabu, 8 April 2026. BI juga telah meningkatkan lelang Surat Berharga Rupiah Indonesia (SRBI) sejak awal tahun ini.
Langkah ini membalikkan strategi tahun 2025 di mana BI mengurangi peredaran SRBI untuk mendukung ekspansi likuiditas. Menurut Perry, strategi peningkatan SRBI bertujuan untuk menarik arus masuk modal ke pasar domestik sambil menjaga stabilitas nilai tukar. Kebijakan lainnya adalah pembelian Obligasi Negara di pasar sekunder.
“Tahun ini, kami telah membeli Rp90,05 triliun secara year-to-date. Itulah yang telah kami lakukan,” kata Perry. Sepanjang 2025, BI telah menurunkan suku bunga acuan sebanyak lima kali sebesar 125 basis poin menjadi 4,75 persen.
Posisi ini merupakan yang terendah sejak 2022. Dalam rapat Dewan Gubernur pada Maret 2026, BI memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75 persen. BI juga memutuskan untuk mempertahankan suku bunga fasilitas simpanan di level 3,75 persen dan suku bunga fasilitas pinjaman di level 5,50 persen.