Produktivitas tenaga kerja menjadi kunci pertumbuhan ekonomi Indonesia: kata menteri
Liga335 – Produktivitas tenaga kerja kunci pertumbuhan ekonomi Indonesia: menteri
Menteri Tenaga Kerja Yassierli menegaskan bahwa rendahnya produktivitas tenaga kerja tetap menjadi hambatan besar bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. “Fakta bahwa produktivitas tetap stagnan tidak dapat diterima,” ujarnya dalam dialog dengan alumni Universitas Andalas di Padang pada Sabtu lalu. Menteri tersebut menyoroti bahwa sektor-sektor seperti pertanian, perdagangan, dan manufaktur, yang menyerap sebagian besar tenaga kerja, menunjukkan tingkat produktivitas yang relatif rendah.
Sebaliknya, sektor-sektor seperti pertambangan, properti, dan teknologi informasi dan komunikasi, meskipun mempekerjakan tenaga kerja yang lebih sedikit, menunjukkan produktivitas yang jauh lebih tinggi. Untuk mengatasi tantangan ini, Kementerian Tenaga Kerja telah menerapkan kebijakan pelatihan vokasi “triple skilling”, yang berfokus pada skilling, reskilling, dan upskilling. Pendekatan multifaset ini sangat penting untuk beradaptasi dengan tuntutan lanskap industri modern yang berkembang pesat.
Yassierli menjelaskan Program pengembangan keterampilan dirancang untuk membekali para pencari kerja dan lulusan baru dengan keterampilan yang diperlukan agar dapat memasuki dunia kerja dan mengurangi angka pengangguran. Inisiatif reskilling bertujuan untuk mendukung para pekerja yang berisiko kehilangan pekerjaan dengan membekali mereka keterampilan yang dibutuhkan untuk beralih ke peran baru. Di sisi lain, program upskilling berfokus pada peningkatan keterampilan dan kompetensi yang sudah dimiliki oleh tenaga kerja saat ini, sehingga dapat meningkatkan produktivitas dan daya saing di dalam perusahaan.
Sebanyak 63 persen industri telah mengidentifikasi kesenjangan yang signifikan antara keterampilan yang diperoleh lulusan universitas dan tuntutan aktual pasar kerja Indonesia, tegas Yassierli, menyoroti kebutuhan kritis akan program-program ini. Yassierli lebih lanjut mencatat bahwa produktivitas Indonesia tertinggal dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya, dengan mengutip Vietnam sebagai contoh. Penelitian menunjukkan bahwa 10 persen tenaga kerja Vietnam lulus dari lembaga pendidikan vokasi, sebuah kontras yang mencolok dengan Indo Indonesia, di mana kurang dari satu persen angkatan kerja telah mengikuti pelatihan kejuruan.